Dear my mega best friend... I miss you I miss us I miss the past I miss the future that we always tell with our abstract convert I deny that we're okay today I can't find you in the other one If we can't be lovers, we still have the chance to be friends Can you see the constellation above you? Is it okay? Still remember about the Scorpio and Orion? You have to forget, right? Still remember how I draw the dot by dot to shape the Orion's constellation? I miss that badly It's pretty fucking situation.... I just wanna back to home Sekarang baru kerasa, ya hahaha Saat sahabat baik gue ninggalin gue, gue baru nyadar kalo "penyesalan itu selalu datang terlambat" 100% benar. Sekarang gue baru ngerasa, gue nggak punya tempat berbagi senyaman kayak dulu lagi. Gue ngadepin masalah gue sendiri, bagi-bagi cerita juga sendiri, semuanya; yang awalnya gue hadepin bareng sahabat gue, sekarang cuman bisa gue pendam aja. Sumpah, gue kangen saha...
“Kenapa lo masih pengen liat salju Eropa sementara hujan Indonesia aja udah bisa bikin lo bahagia? Kebahagiaan yang kayak gimana lagi yang lo mau?” I’m back! Setelah postingan kemarin belatar ‘mimpi’, kali ini gue bakal sedikit berbagi soal yang namanya Friendzone. Yup, Friendzone! Sebelum masuk ke yang namanya friendzone, gue nanya dulu nih. Musti dijawab jujur, ya! Lo pasti punya teman, kan? Atau gak sahabat deh? Atau gak... em, teman dekat, atau teman curhat? Atau seseorang yang selalu ada buat lo saat lo lagi butuh sandaran waktu ngadepin masalah-masalah lo? Punya, kan? Pasti ada lah, ya. Emang si, gue juga tau, kalo susah banget buat kita punya sahabat yang sempurna. Sempurna di sini adalah sahabat yang ngerti kita luar dalam, yang ada bukan cuman pas saat kita lagi happy doang, tapi ada pas kita lagi di bawahnya aspal jalan tol; terpuruk maksud gue. Kata mega best friend gue, gak ada sahabat yang sempurna. Bener tuh! Tapi, sekarang coba deh lo pikir. Setidakny...
Lights Will Guide You Home (Inspirated by Coldplay - Fix You) Riani Senja di tengah pantai Kuta, dengan horizon di ujung pantai yang masih menjadi misteri. Nggak salah, kenapa ilmuwan ama ahli kosmologi mati-matian nyari tau apa yang ada di belakang horizon sana. Karena sampai detik ini kita semua nggak ada yang tau apa objek yang menemani matahari saat ia terbit dan terbenam. We just know that it’s sunrises and sunsets. Ini sore terakhir dari One Week My Trip - gue di Bali bareng Kiki. Nggak habis pikir gue, akhirnya rencana gue bareng dia buat holiday di Bali bisa terwujud. Perlu perjuangan keras buat bisa sampai di tempat ini. Iya, gue ama Kiki rela nggak jajan selama tiga bulan tiga puluh hari alias empat bulan lamanya biar bisa beli tiket PP dan nginep di resort Kuta. Bayangin selama empat bulan gue nggak jajan, dan empat novel bestseller yang harusnya udah berderet di meja belajar gue akhirnya masih aja...
Hhmmm, mungkin yang kaka tangkap dari ceritanya adalah kenangan :v
BalasHapusmakasih sudah mampir :)
Hapus