Postingan

What's your dream?

Astagaaa, sumpah gue kangen banget nge-type di depan pc kaya begini. Udah lama banget gue nggak ngeposting; setelah acara kekalahan adu comment beberapa waktu lalu, gue nyadar, gue musti wake up. Oh iya, kali ini gue bawa sesuatu yang beda dari yang biasanya gue bawa. Kalo biasanya gue posting soal cerpen atau quotes bebas yang emang udah jadi hobi gue, sekarang gue bawa hasil penelitian gue yang kemarin, spesial buat lo semua. Ini bukan karangan fiktif yaaa, ini real.  Based of the fact! Let prove if you don’t believe. Ok, gue buka dulu deh ya biar lebih sakral. Lo semua juga pasti udah pada tau siapa gue. Yup, Fauzia. Gue beberin dikit yaaa wkwkwk, gue lagi melangkah buat ngejar mimpi-mimpi gue (?), gue lagi dalam proses ngaduk semen buat ngebangun gedung anti friendzone. Gue juga lagi dalam tahap melangkah mundur (kalo ngejar mimpi tadi gue melangkah maju yaaa) buat stop suka sama cowo kekeran (yang gue suka). Gue juga... ah kelamaan. Yaudah, gue langsung ke intinya nih...

Why you never look at me?

Listened to Let Her Go by Passenger when you read this one!  Only know you’ve been high when you’re feeling low Only hate the road you’re missin’ home Only know you love her when you let her go (Inspirated by Passenger - Let her go) Hujan yang bergeming, dan udara dingin yang perlahan berubah menjadi embun di kaca-kaca jendela kafe. Gue masih duduk di tempat yang sama sejak tiga jam yang lalu. Memainkan kedua bola mata gue dengan berpura-pura sibuk mengamati kemacetan panjang Ibu Kota. Menutup perasaan gue dengan menghindari segala kegiatan yang bakal mempertemukan gue sama dia. Membentengi hati gue dengan tembok besar yang kuat biar nggak ada orang yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi sama gue. IPhone gue bergetar dengan sebaris kalimat “Radit“ di layar panggilannya. Seketika itu juga gue bergegas menghapus airmata yang sedari tadi udah membasahi pipi gue. Baru aja gue buka mulut buat angkat panggilan dia, sebuah teriakan dari ujung telepon s...

Pesan Eirene

DC : ~ Pagi itu aku menatap sekeliling langit dengan penuh ragu. Masih ku dapati bulan yang bersinar terang dengan berhias birunya rona malam. Sesaat aku menghembuskan nafas panjang begitu melirik arloji di lengan kiriku; 05.50.  Jangan-jangan Rangga hanya ingin mengerjaiku saja? “Rara!” dari kejauhan, ku lihat seorang anak laki-laki yang melambaikan tangan kanannya seraya berlari ke arahku. Bayangannya seolah berbaur dengan tanah karena terpantul cahaya remang dari lampu di pinggir jalan. “Maaf, telat ya, Ra!” ku dengar keluhan anak laki-laki keturunan Indo-Paris itu begitu dia sudah sampai di depan pagar rumahku. Nafasnya masih ngos-ngosan karena berlari mengejar waktu. “Besok-besok aku gak ikut kalau janjinya jam segini lagi.” kataku seraya melangkah meninggalkan Rangga pergi. 10 menit menanti kedatangannya sama seperti menghabiskan waktu satu jam penuh.  Relativitas memang berlaku saat menunggu, bukan? “Yakin?” tanya Rangga seraya membuntut...